Saturday, October 3

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.843 per Dolar AS, Pasar Cermati Ancaman Militer Trump dan Data Ekonomi AS


Ilustrasi(Antara)

NILAI tukar rupiah kembali berada di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (22/6). Mata uang Garuda tercatat melemah 39 poin atau 0,22% ke level Rp17.843 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.804 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan aksi militer di Lebanon.

“Sentimen pasar terguncang setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran tentang potensi aksi militer tambahan kecuali Iran mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah yang beroperasi di Libanon. Komentar tersebut muncul ketika Wakil Presiden ASD JD Vance membuka babak baru pembicaraan diplomatik dengan perwakilan Iran di Swiss,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (22/6).

Di sisi lain, perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran memberikan sentimen yang lebih positif bagi pasar energi global. Dalam perundingan yang berlangsung di Swiss, Iran disebut memperoleh pengecualian untuk ekspor minyak dan produk petrokimia. Kondisi tersebut dinilai mampu meredakan kekhawatiran terkait pasokan energi dunia sekaligus memberikan tekanan terhadap harga minyak mentah.

Sejumlah pejabat senior dari AS dan Iran juga telah menuntaskan putaran pertama negosiasi di Swiss pada Senin. Pembicaraan tersebut merupakan kelanjutan dari kesepakatan pekan lalu yang bertujuan memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh sejak April, setidaknya selama 60 hari ke depan.

Pemerintah Iran mengungkapkan bahwa pembahasan yang berlangsung di Swiss menunjukkan perkembangan positif. Sementara itu, mediator dari Qatar dan Pakistan menyatakan para pihak telah mencapai kesepakatan awal berupa peta jalan menuju perjanjian yang lebih komprehensif.

Selain mencermati dinamika geopolitik Timur Tengah, investor juga menunggu sejumlah indikator ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis dalam pekan ini.

“Perhatian pasar pada data ekonomi AS minggu ini, terutama pada perkiraan terakhir angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal pertama tahun 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), ukuran inflasi pilihan The Fed akhir pekan ini untuk petunjuk baru tentang arah kebijakan moneter,” ungkap Ibrahim.

Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan penguatan tipis. Pada perdagangan hari ini, JISDOR tercatat berada di level Rp17.819 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi sebelumnya yang sebesar Rp17.826 per dolar AS. (Ant/E-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *