
JUMLAH petani melenial semakin menyusut, Pemerintah Kabupaten Semarang mulai melakukan strategis dengan menyiapkan pembelajaran pertanian diterapkan di sekolah-sekolah untuk mendorong minat generasi muda terjun ke sektor pertanian.
Pemantauan Media Indonesia Senin (22/6) seiring dengan berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan, jumlah petani di Kabupaten Semarang juga semakin menyusut setiap tahunnya, sehingga kondisi ini dikhawatirkan akan semakin menyulitkan langkah penyediaan pangan di masa mendatang.
Berdasarkan data diterima Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang sebanyak 77,6 persen petani saat ini berusia di atas 45 tahun dan petani milenial sekitar 11,8 persen, sedangkan jumlah rumah tangga usaha pertanian di daerah ini berkurang 10,27 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan penyediaan sekolah berbasis pertanian ada di Kabupaten Semarang yang setiap tahun melahirkan ribuan lulusan berbasis pertanian dan calon-calon petani muda, namun kenyataannya hanya beberapa persen yang bertahan menggeluti ilmu pertanian.
Di Kabupaten Semarang setidaknya ada cukup banyak sekolah berbasis pertanian dengan jumlah siswa mencapai ribuan orang yakni SMK Negeri Bawen (Bawen), SMK Negeri H. Moenadi (Ungaran), SMK Farming Suwakul (Ungaran), SMK Theresiana (Bandungan), SMA Negeri 1 (Susukan) dan SPMA Kanisius (Ambarawa).
Melihat kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Semarang kembali mengambil langkah menghadapi krisis sumber daya manusia (SDM) di bidang pertanian, terutama semakin sulitnya generasi muda (melenial) bergerak di bidang pertanian ini, karena dikhawatirkan akan berdampak terhadap ketahanan pangan di masa depan.
Pendidikan Pertanian
Mendorong minat dan bakat bagi generasi muda (kaum melenial) di bidang pertanian, Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang melakukan kerjasama Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang dengan memasukkan pelajaran pertanian di sekolah.
“Setiap tahun jumlah petani berkurang satu persen, sedangkan jumlah kebutuhan semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk,” kata Kepala Dispertanikap Kabupaten Semarang Moh Edy Sukarno Senin (22/6).
Maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut, lanjut Moh Edy Sukarno, Pemkab Semarang segera mengambil langkah strategis karena dikhawatirkan akan mengganggu ketahanan pangan di masa depan, yakni dengan bekerjasama dengan Disdikbudpora Kabupaten Semarang terkait Program Penyuluh Masuk Sekolah dan Sekolah Pangan Lestari,
Rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, ungkap Moh Edy Sukarno, dipengaruhi berbagai faktor seperti perubahan pola pikir hingga anggapan bahwa pertanian identik dengan pekerjaan kotor dan kurang menjanjikan secara ekonomi, meskipun sektor pertanian merupakan bidang usaha yang tidak pernah kehilangan relevansinya karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat.
Langkah ditempuh menghadapi kondisi ini, demikian Moh Edy Sukarno, yakni mengenalkan dunia pertanian sejak usia sekolah melalui pendekatan yang lebih menarik dan aplikatif dengan program penyuluh pertanian akan masuk ke sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi serta praktik sederhana terkait pertanian.
“Diharapkan program ini dapat mendorong anak-anak memiliki ketertarikan pada dunia pertanian, ” tambahnya.
Selain melalui pendidikan formal, menurut Moh Edy Sukarno, Dispertanikap juga memiliki program pendidikan non-formal melalui pelatihan sekolah tani milenial dan di tahun ini juga ada tujuh paket pelatihan bagi generasi muda berusia 15-39 tahun takut meliputi technical skill budidaya dengan jalur organik, upgrade skill tentang berwirausaha agro dan marketing digital.
Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Semarang M Taufiqur Rahman mengatakan sangat menyambut baik kerjasama program tersebut kode, karena memiliki nilai strategis karena tidak hanya mendukung ketahanan pangan, juga membentuk karakter siswa, khususnya kemandirian dan kewirausahaan.
“Kami berharap program ini bisa masuk ke kokurikuler karena akan lebih terstruktur dan menjadi bagian dari perencanaan pembelajaran di sekolah, sehingga kita segera godok pematerian pendidikan itu dari SF hingga SMP,” ujar Taufiqur Rahman. (AS)
