
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberikan penyambutan pribadi yang terbilang langka kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping di bandara pada Rabu waktu setempat. Penyambutan langsung ini mengawali rangkaian kunjungan kenegaraan bertabur penghormatan resmi yang bertujuan untuk meredakan ketegangan antara dua negara adidaya dunia tersebut, mulai dari isu kecerdasan buatan (AI), perdagangan, hingga konflik Iran.
Trump bersama Ibu Negara Melania bersalaman dengan Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, sesaat setelah Presiden Tiongkok tersebut turun dari pesawat di pangkalan militer Joint Base Andrews, luar kota Washington.
Kedua pemimpin negara kemudian berdiri berdampingan di koridor kedatangan saat korps musik militer memandu lagu kebangsaan kedua negara. Penyambutan ini juga diwarnai aksi terbang melintas (flyover) dua pesawat pembom B-1 yang memicu raungan keras di udara.
Penyambutan langsung di bandara oleh Presiden AS merupakan bentuk penghormatan yang sangat jarang terjadi. Penyambutan serupa di Joint Base Andrews sebelumnya hanya tercatat pada kunjungan Paus, atau saat Presiden John F. Kennedy menyambut Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan pada 1962 dan Presiden Dwight D. Eisenhower saat menyambut Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev pada 1959.
Penyambutan ini menandai dimulainya rangkaian agenda tiga hari yang mencakup jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Putih. Kendati disambut secara megah, para analis memperkirakan peluang terjadinya terobosan besar dalam pertemuan ini relatif rendah. Tujuan utama dari rangkaian acara ini dinilai sebatas menjaga gencatan diplomasi dan perdagangan antar kedua negara.
Perpanjangan Gencatan Perang Dagang
Saat menggelar pertemuan bilateral, kedua pemimpin dihadapkan pada sejumlah isu krusial. Salah satunya adalah kekhawatiran terkait perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, peluang lahirnya kesepakatan untuk meregulasi AI dinilai masih kecil karena kedua negara tengah bersaing ketat memperebutkan supremasi di bidang tersebut.
Di sisi lain, perkembangan positif terjadi di sektor ekonomi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perpanjangan masa gencatan perang dagang antara kedua negara. Gencatan ekonomi yang semula dijadwalkan berakhir pada 10 November tersebut kini resmi diperpanjang hingga 10 Januari.
Analisis dari Brookings Institution, Jonathan Czin, menilai bahwa ekspektasi publik terhadap hasil konkret dari pertemuan ini memang rendah, namun perpanjangan kesepakatan informal antar kedua pemimpin dianggap sebagai langkah yang realistis.
Gelombang Kritik Internal
Langkah Trump menggelar penyambutan mewah bagi Xi Jinping tidak lepas dari kritikan, khususnya dari faksi garis keras terhadap Tiongkok di internal partainya sendiri. Kritik tersebut muncul di tengah laporan bahwa Beijing diduga memberikan bantuan intelijen kepada Iran untuk menyerang pasukan AS.
“Panglima tertinggi kita harus ingat bahwa tamunya adalah seorang diktator yang kejam, tidak dipilih secara demokratis, dan penindas,” tegas Senator asal Partai Republik, Roger Wicker, yang menjabat sebagai Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat.
Trump sendiri memilih untuk tidak menonjolkan tuduhan keterlibatan Tiongkok dalam isu Iran tersebut. Kunjungan kenegaraan ini sekaligus menjadi momentum bagi Trump untuk mengalihkan fokus dari dinamika politik dalam negeri jelang pemilu sela.
Rangkaian kunjungan Xi Jinping dijadwalkan berakhir pada Jumat pagi setelah kedua pasangan presiden melakukan pertemuan minum teh di Gedung Putih dan mengunjungi Arsip Nasional AS. (AFP/Z-2)
