Friday, September 18

Tak Hanya Mengejar Prestasi, Atlet Perlu Menyiapkan Karier Berikutnya


Ilustrasi(Dok Istimewa)

MENJADI juara merupakan puncak dari perjalanan seorang atlet. Namun, ketika masa kompetitif berakhir, perjalanan tersebut belum selesai. Atlet tetap membutuhkan bekal untuk menjalani fase berikutnya, termasuk kemampuan mengenali peluang, mengembangkan keterampilan, dan menciptakan sumber penghasilan baru.

Hal tersebut menjadi perhatian PPM School of Management bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat melalui Webinar Nasional bertajuk “Membangun Entrepreneurial Mindset Atlet dan Pelatih Cabang Olahraga”, yang digelar secara daring pada Selasa (16/9/2026). Webinar ini diikuti hampir 1.000 atlet, pelatih, dan pengurus olahraga dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 300 peserta bergabung melalui Zoom Meeting, sementara lebih dari 650 audiens menyaksikan siaran langsung melalui kanal YouTube KONI Pusat.

Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menegaskan bahwa perhatian terhadap atlet tidak semestinya berhenti pada upaya mencetak prestasi. Dalam sambutannya, Marciano menyampaikan, “Selain pembinaan tim/atlet menjadi juara, kita juga harus mendukung kegiatan pasca menjadi atlet.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan pentingnya melihat pembinaan atlet secara lebih luas, tidak hanya dari sisi performa di arena, tetapi juga kesiapan menghadapi fase setelah masa kompetitif. Salah satu bekal yang dapat dikembangkan adalah entrepreneurial mindset, sehingga pengalaman dan keterampilan yang diperoleh selama berkarier di dunia olahraga dapat menjadi bagian dari pilihan karier berikutnya.

Pengalaman Olahraga sebagai Modal Berwirausaha

Dalam sesi utama, Associate Professor dan Dosen Entrepreneurship, Marketing, dan Personal Branding PPM School of Management, Assoc. Prof. Dr. Aprihatiningrum Hidayati, S.Psi., M.M., mengajak atlet dan pelatih melihat pengalaman olahraga dari perspektif yang berbeda.

Menurut Dr. Apri, atlet sebenarnya telah memiliki sejumlah modal penting yang relevan dengan dunia kewirausahaan, seperti disiplin, daya juang, persistensi, kemampuan bekerja dalam tim, serta keberanian menghadapi risiko secara terukur. Namun, karakter tersebut perlu dilengkapi dengan keterampilan bisnis agar dapat diterjemahkan menjadi nilai ekonomi. “Kita terbiasa menyiapkan pertandingan berikutnya. Hari ini kita menyiapkan pilihan karier berikutnya,” ujar Dr. Apri.

Ia menekankan bahwa persiapan tersebut tidak harus menunggu hingga seorang atlet berhenti bertanding. Bagi atlet, langkah awal dapat berupa usaha kecil yang disesuaikan dengan jadwal latihan. Sementara bagi pelatih, pengalaman membina atlet dapat dikembangkan menjadi layanan atau usaha yang memanfaatkan keahlian yang telah dimiliki.

Dalam konteks tersebut, kewirausahaan dipahami bukan sekadar aktivitas berdagang, melainkan proses mengenali kebutuhan, menawarkan solusi, kemudian mengelola sumber daya agar solusi tersebut dapat dijalankan dan menghasilkan pendapatan. Sumber daya yang dimaksud tidak selalu berupa modal finansial, tetapi juga mencakup waktu, keterampilan, pengalaman, dan jejaring.

Karena itu, pengalaman olahraga dapat menjadi titik awal untuk mengenali peluang. Seorang atlet, misalnya, memiliki pemahaman mengenai kebutuhan perlengkapan, latihan, maupun pengalaman pengguna dalam cabang olahraga tertentu. Sementara pelatih memiliki pengalaman dalam menyusun program latihan, memberikan umpan balik, serta memahami kebutuhan peserta didik.

Namun, pengalaman dan reputasi di dunia olahraga bukan jaminan keberhasilan bisnis. Produk dan layanan tetap harus menjawab kebutuhan pelanggan, sementara pengelolaan biaya, harga, operasional, dan kualitas layanan menjadi keterampilan yang perlu dipelajari.

Mematahkan Mitos tentang Kewirausahaan

Dalam sesi tersebut, Dr. Apri juga mengajak peserta melihat kembali sejumlah mitos mengenai kewirausahaan. Salah satunya adalah anggapan bahwa pengusaha dilahirkan, bukan dibentuk. Padahal, berbagai keterampilan kewirausahaan dapat dipelajari, mulai dari mendengarkan pelanggan, menawarkan layanan, menghitung biaya, hingga memenuhi janji kepada pelanggan.

Mitos lainnya adalah bahwa pengusaha mengandalkan keberuntungan. Menurut Dr. Apri, seorang pengusaha justru perlu mampu mengelola ketidakpastian dan mengambil risiko secara moderat. Karena itu, gagasan bisnis tidak harus langsung diwujudkan dalam skala besar. Peluang dapat diuji terlebih dahulu melalui percobaan kecil dengan batas waktu dan biaya yang terukur.

Ia juga membahas anggapan bahwa uang merupakan satu-satunya motivasi seseorang menjadi pengusaha serta pandangan bahwa pengusaha idealnya berusia muda. Pengalaman, kematangan, reputasi, dan portofolio juga dapat menjadi kekuatan dalam membangun usaha.

Sejumlah atlet Indonesia yang telah memasuki dunia usaha turut menjadi contoh dalam pemaparan, di antaranya Liliyana Natsir, Alan Budikusuma dan Susi Susanti, Chris John, Lindswell Kwok dan Achmad Hulaefi, Marcus Fernaldi Gideon, serta Ade Rai. Ragam usaha yang mereka kembangkan menunjukkan bahwa pengalaman dari dunia olahraga dapat memiliki keterkaitan dengan berbagai bidang, mulai dari fasilitas olahraga, pelatihan, perlengkapan, hingga layanan kebugaran dan kesehatan.

Dari Ide Menjadi Langkah Nyata

Untuk membantu peserta menerjemahkan gagasan menjadi tindakan, Dr. Apri memperkenalkan kerangka BRIGHT, yaitu Business Oriented, Realistic, Innovative, Genuine, Honest, dan Timely. Kerangka tersebut digunakan untuk membawa sebuah gagasan melalui tahapan ide, konsep bisnis, rencana bisnis, hingga start-up.

Peserta juga diajak menggunakan pengalaman olahraga sebagai kebiasaan dalam membangun usaha. Disiplin latihan, misalnya, dapat diterapkan dalam pencatatan transaksi dan biaya. Evaluasi setelah pertandingan dapat diterapkan untuk mengevaluasi layanan atau penjualan. Sementara kerja tim dapat membantu pembagian tanggung jawab dalam menjalankan usaha.

Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan dalam rencana sederhana selama 30 hari. Pada minggu pertama, peserta memilih satu kebutuhan pelanggan dan satu ide yang sesuai dengan kemampuan. Minggu berikutnya digunakan untuk berbicara dengan sedikitnya lima calon pelanggan guna memahami masalah dan kebutuhan mereka. Pada minggu ketiga, peserta menguji satu penawaran kecil. Selanjutnya, minggu keempat digunakan untuk mengevaluasi pelanggan, pengalaman, pendapatan, dan biaya untuk menentukan apakah penawaran akan dilanjutkan, diperbaiki, atau dihentikan.

Dengan pendekatan tersebut, entrepreneurial mindset tidak berhenti pada motivasi untuk menjadi pengusaha, tetapi diarahkan pada kemampuan menguji gagasan berdasarkan kebutuhan nyata dan mengambil keputusan berdasarkan hasil.

Memperluas Pilihan Karier Atlet

Bagi atlet dan pelatih, membangun kesiapan menghadapi masa depan tidak selalu berarti harus meninggalkan dunia olahraga. Sebaliknya, pengalaman yang telah dibangun selama berada dalam ekosistem olahraga dapat menjadi bagian dari modal untuk mengembangkan peran dan pilihan karier berikutnya.

Dalam perspektif ini, pendidikan bisnis dapat menjadi salah satu sarana untuk melengkapi pengalaman tersebut. Atlet dan pelatih dapat mempelajari aspek yang sebelumnya mungkin tidak menjadi bagian utama dari pembinaan olahraga, seperti memahami pelanggan, menentukan harga, menghitung biaya, mengelola operasional, dan membangun kerja sama. (H-2)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *