Tuesday, September 22

The Fed Tahan Suku Bunga, RI harus Sigap Hadapi Volatilitas Baru


ilustrasi(Antara)

Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) untuk kembali menahan suku bunga acuannya di level 3,5%-3,75% menegaskan bahwa ketidakpastian global masih membayangi perekonomian dunia. Langkah ini memicu potensi peningkatan volatilitas di pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menuturkan bahwa kondisi ini dapat memberikan tekanan pada nilai tukar Mata Uang Rupiah. Menurutnya, Indonesia perlu bertindak lebih sigap dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

 

Keputusan Ketua The Fed Jerome Powell dianggap menunjukkan pendekatan yang semakin hati-hati. The Fed tidak terburu-buru menurunkan suku bunga, namun juga belum sepenuhnya agresif, menandakan bahwa tekanan inflasi dan risiko global belum mereda sepenuhnya.

Fakhrul menilai dinamika global saat ini mencerminkan kemungkinan perubahan arah kebijakan ke depan. Hal ini seiring menguatnya wacana figur seperti Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed, yang dinilai cenderung mengedepankan pendekatan berbasis realisasi kondisi ekonomi (data-dependent) dibandingkan panduan ke depan (forward guidance).

“Jika kebijakan global mulai bergeser menjadi kurang forward-looking dan lebih reaktif terhadap data inflasi serta risiko aktual, maka volatilitas pasar berpotensi menjadi kenormalan baru,” ujar Fakhrul dalam keterangan resmi, Kamis (30/4).

Urgensi Kebijakan Moneter dan Fiskal

Dalam konteks domestik, Fakhrul menjelaskan bahwa Mata Uang Rupiah saat ini sedang mengalami overshooting, kondisi ketika tekanan nilai tukar melemah lebih jauh dari fundamental jangka pendeknya, dan tengah mencari keseimbangan baru.

Ia menekankan pentingnya sinyal tegas dari otoritas moneter. “Begitu Bank Indonesia menunjukkan langkah siap melakukan monetary tightening, Mata Uang Rupiah akan bisa kembali menguat. Ini bukan soal mengejar langkah The Fed, tetapi soal menjaga kepercayaan terhadap stabilitas domestik,” tegasnya.

Fokus Fiskal: Fakhrul menyoroti pentingnya kepastian arah APBN, termasuk rasionalisasi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah pemerintah melakukan kalibrasi belanja dinilai sebagai sinyal positif bagi pasar bahwa fiskal Indonesia tetap fleksibel namun disiplin.

Sinergi BI dan Kementerian Keuangan

Pasar saat ini membutuhkan kejelasan terkait target fiskal dan strategi pembiayaan, terutama menghadapi tekanan harga energi. Kepastian target APBN dianggap menjadi jangkar utama kepercayaan investor.

Fakhrul menambahkan bahwa sinergi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan kini memasuki fase krusial. Kebijakan yang diambil tidak hanya harus tepat secara teknis, tetapi juga harus terlihat kredibel dan siap dieksekusi dengan disiplin tinggi.

“Jangan biarkan pasar dan masyarakat blank. Komunikasi yang konsisten mengenai fondasi ekonomi Indonesia yang kuat sangat penting agar kepercayaan tetap terjaga di tengah volatilitas global,” pungkasnya.



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *