
GELARAN seni budaya Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 yang berlangsung di Kota Lama Banyumas, Jawa Tengah sukses digelar. Masyarakat begitu antusias selama pelaksanaan pada Sabtu-Minggu (2–3/5).
Penggagas sekaligus Direktur Artistik acara, Rianto, menegaskan bahwa Banyumas Ngibing diharapkan dapat berkembang menjadi ikon wisata budaya daerah sekaligus masuk dalam Kalender Event Nusantara (KEN) di masa mendatang. “Harapan kami, Banyumas Ngibing ini bisa menjadi ikon budaya Banyumas dan ke depan masuk dalam KEN sebagai agenda nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga diproyeksikan menjadi agenda unggulan di kawasan Kota Lama Banyumas, sekaligus sarana untuk mempromosikan potensi wisata dan kekayaan tradisi lokal kepada masyarakat luas. “Ini bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga upaya memperkenalkan identitas budaya Banyumas kepada publik yang lebih luas,” katanya.
Menurut dia, penyelenggaraan tahun ini merupakan edisi kedua dengan sejumlah peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah keterlibatan komunitas pelukis dari Banyumas dan Purbalingga dalam aksi melukis bersama sebagai bagian dari rangkaian acara.
Selain itu, atraksi utama berupa tari maraton selama 24 jam kembali digelar dengan melibatkan penari dari berbagai daerah seperti Sumenep, Jakarta, dan Tangerang, sehingga memperkaya ragam pertunjukan.
Rianto juga mengungkapkan bahwa penari asal Amerika Serikat, Ari Dharminalan Rundeko, semula dijadwalkan tampil sejak awal acara. Namun, kehadirannya tertunda akibat kondisi kesehatan usai mengikuti agenda seni di Solo. Padahal, Ari direncanakan tampil menari selama 24 jam penuh bersama dua penari utama lainnya, yakni Sri Cicik Handayani dan Baltazar Oka Reskir.
Meski demikian, Rianto memastikan pembukaan acara berjalan lancar dan mendapat respons positif dari masyarakat. “Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini menjadi modal penting bagi pengembangan Banyumas Ngibing ke depan,” ujarnya.
Secara keseluruhan, kegiatan ini melibatkan hampir 1.000 penari, lebih dari 150 pertunjukan, serta 85 komunitas seni dari berbagai daerah di dalam dan luar negeri. Peserta berasal dari sejumlah kota seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Surabaya, Sumenep, Yogyakarta, Surakarta, wilayah Banyumas Raya, hingga mancanegara seperti Jepang, Kazakhstan, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat.
Mengusung tema “Beragam Jiwa-Jiwa yang Menyatu dalam Bumi”, acara ini merepresentasikan pertemuan berbagai identitas budaya dalam satu ruang di Banyumas sebagai simbol harmoni dalam keberagaman.
Selain sebagai ajang pertunjukan, Banyumas Ngibing juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya lokal seperti lengger, ebeg, cedungan, serta tradisi lainnya, sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur. (H-2)
