Wednesday, September 23

Badai Matahari Diduga Berpengaruh pada Gempa Bumi, ini Penjelasan Ilmuwan


Ilustrasi(magnific)

KEMUNGKINAN hubungan antara badai Matahari (solar storms) dan gempa bumi kini mulai mendapat perhatian ilmuwan. Sejumlah peneliti mengusulkan bahwa aktivitas Matahari yang memengaruhi ionosfer dapat berperan dalam memicu gempa, terutama pada patahan yang sudah berada dalam kondisi kritis.

Sebuah penelitian yang dilansir dari Science Daily mengungkap adanya keterkaitan tak terduga tersebut. Para ilmuwan menjelaskan bahwa gangguan di ionosfer akibat aktivitas Matahari berpotensi menghasilkan efek elektrostatik yang dapat memengaruhi kestabilan kerak Bumi.

Penelitian yang dikembangkan oleh tim dari Kyoto University ini tidak menyatakan bahwa badai Matahari secara langsung menyebabkan gempa. Namun, mereka menawarkan mekanisme baru yang menunjukkan bagaimana faktor eksternal dari luar Bumi dapat ikut berperan dalam proses terjadinya gempa.

Mekanisme dari Langit ke Dalam Bumi

Dalam model teoretis yang dikembangkan, gangguan di ionosfer, sebuah lapisan atmosfer atas yang bermuatan listrik dapat menghasilkan medan elektrostatik yang menembus hingga ke dalam kerak Bumi. Gangguan ini sering dipicu oleh aktivitas Matahari yang intens, seperti solar flares.

Zona patahan yang telah retak dan melemah diduga mengandung fluida bersuhu dan bertekanan tinggi, bahkan dalam kondisi superkritis. Secara elektrik, area ini dapat bertindak seperti kapasitor raksasa yang terhubung dengan permukaan Bumi dan ionosfer.

Ketika aktivitas Matahari meningkat, kepadatan elektron di ionosfer juga ikut melonjak. Hal ini menciptakan lapisan bermuatan negatif yang kemudian, melalui proses kopling kapasitif, dapat menghasilkan tekanan elektrostatik di dalam rongga-rongga kecil pada batuan.

Tekanan ini diperkirakan dapat mencapai beberapa megapascal, angka yang sebanding dengan gaya pasang surut atau gravitasi yang telah lama diketahui memengaruhi kestabilan patahan.

Anomali Ionosfer Sebelum Gempa

Fenomena ionosfer yang tidak biasa sebenarnya telah lama diamati sebelum gempa besar terjadi. Beberapa di antaranya meliputi peningkatan kepadatan elektron, penurunan ketinggian ionosfer, hingga perlambatan gelombang gangguan ionosfer.

Selama ini, perubahan tersebut dianggap sebagai dampak dari tekanan yang meningkat di dalam kerak Bumi. Namun, studi terbaru ini mengajukan kemungkinan hubungan dua arah: tidak hanya Bumi yang memengaruhi ionosfer, tetapi ionosfer juga dapat memberikan umpan balik ke dalam kerak.

Pendekatan ini membuka cara pandang baru bahwa gempa tidak semata-mata dipicu oleh dinamika internal Bumi, melainkan juga bisa dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan luar angkasa.

Belajar dari Kasus Jepang

Para peneliti juga menyoroti sejumlah gempa besar di Jepang, termasuk 2024 Noto Peninsula earthquake, yang terjadi tidak lama setelah periode aktivitas Matahari yang tinggi.

Meski demikian, mereka menegaskan bahwa kesesuaian waktu tersebut tidak dapat dijadikan bukti hubungan sebab-akibat. Temuan ini hanya memperkuat dugaan bahwa gangguan ionosfer mungkin berperan sebagai faktor tambahan ketika patahan sudah berada di ambang kegagalan.

Ke depan, para ilmuwan berencana mengombinasikan teknologi tomografi ionosfer berbasis GNSS dengan data cuaca antariksa untuk mempelajari lebih dalam hubungan ini. Harapannya, pendekatan tersebut dapat membantu memahami bagaimana gempa dimulai dan meningkatkan akurasi dalam menilai risiko seismik.

Sumber: Science Daily



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *