
KONFLIK bersenjata yang melibatkan Iran memberikan pukulan telak bagi kantong konsumen di Amerika Serikat. Sejak 1 Maret, warga AS dilaporkan harus merogoh kocek tambahan hingga US$23,9 miliar (sekitar Rp406,3 triliun) untuk mengisi bahan bakar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala Analisis Perminyakan di situs pelacakan GasBuddy, Patrick DeHaan, mengungkapkan melalui platform X bahwa beban biaya tambahan ini mencapai angka sekitar US$6.462 per detik atau US$23,3 juta setiap jam.
Perbandingan Biaya yang Mengejutkan
Untuk memberikan gambaran mengenai besarnya kerugian tersebut, DeHaan mencatat bahwa total biaya tambahan ini setara dengan:
- Biaya untuk 1,2 miliar jam layanan penitipan anak (daycare).
- Gabungan anggaran tahunan National Science Foundation, Small Business Administration, dan Departemen Luar Negeri AS.
- Hanya selisih US$1 miliar dari total biaya yang dikeluarkan pemerintah AS untuk mendanai perang itu sendiri sejauh ini.
Lonjakan harga minyak dunia dimulai pada awal Maret ketika aktivitas pengiriman di Selat Hormuz terhenti. Wilayah ini merupakan jalur krusial yang melayani transit 20 persen pasokan minyak dunia. Kekhawatiran akan serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker menjadi pemicu utama kemacetan logistik global tersebut.
Tren Harga dan Dampak Inflasi
Seiring meroketnya harga minyak mentah, harga bensin di AS pun ikut melambung, melampaui rata-rata US$4 per galon pada Maret untuk pertama kali dalam empat tahun terakhir. Meski sempat ada penurunan harga berkat kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran pada pertengahan April, biaya bahan bakar kembali melonjak mendekati US$4,50 pada awal Mei 2026.
Dampak pada Inflasi: Perang ini menghapus tren penurunan inflasi AS yang sempat menyentuh 2,4% pada Januari dan Februari. Akibat lonjakan harga energi, inflasi kembali naik menjadi 3,3% pada Maret. Harga gas tercatat naik 21,2% secara tahunan (YoY).
Krisis Finansial Rumah Tangga
Krisis harga BBM ini terjadi di saat yang sangat tidak tepat bagi masyarakat. Berdasarkan survei dari PYMNTS pada April, sekitar 40 persen konsumen di AS kini hidup dari gaji. Sebanyak 55 persen warga Amerika menyatakan kondisi keuangan mereka memburuk, tingkat kecemasan yang bahkan melampaui masa Resesi Besar 2008 dan pandemi covid-19.
Bagi pemilik kendaraan populer seperti Ford F-150, dampak perang ini sangat terasa nyata. Biaya pengisian tangki penuh pada Senin (4/5) tercatat lebih mahal US$46,44 (sekitar Rp789 ribu) dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.
Situasi ini menunjukkan betapa kerentanan geopolitik di Timur Tengah dapat langsung berdampak pada stabilitas ekonomi domestik dan kesejahteraan finansial masyarakat kelas menengah ke bawah. (The Independent/I-2)
