Tuesday, September 22

Menhan AS Pete Hegseth Dituduh Beri Laporan Palsu ke Trump Soal Kemenangan Perang di Iran


Menhan AS Pete Hegseth(Media Sosial X)

KETEGANGAN menyelimuti ruang sidang Capitol Hill, Kamis (30/4), saat Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menghadapi cecaran tajam dari anggota Senat. Hegseth dituduh memberikan gambaran yang tidak akurat kepada Presiden Donald Trump terkait situasi perang dengan Iran, serta menggunakan pernyataan yang “sangat dilebih-lebihkan” untuk menciptakan ilusi kemenangan militer.

Senator senior Demokrat, Jack Reed, menegaskan dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat bahwa alih-alih meraih kemenangan, rakyat Amerika justru harus menanggung beban ekonomi akibat perang yang tidak mereka dukung, terutama melalui lonjakan harga bahan bakar.

“Keluarga-keluarga Amerika menanggung biaya perang yang tidak ingin mereka ikuti dan tidak memberikan keuntungan apa pun, namun, Sekretaris Hegseth, Anda menyatakan kemenangan sebulan yang lalu,” ujar Reed.

Sidang yang Diwarnai Kericuhan

Sidang hari kedua ini membahas anggaran militer Pentagon yang mencatat rekor sebesar US$1,45 triliun. Namun, suasana dengan cepat berubah menjadi konfrontasi terkait perang dengan Iran yang kini mengalami kebuntuan setelah delapan minggu pertempuran, di mana rezim Teheran berhasil menutup Selat Hormuz yang strategis.

Jalannya sidang sempat terhenti ketika pengunjuk rasa berteriak “penjahat perang” dan “hina” sebelum akhirnya dikeluarkan paksa oleh petugas keamanan.

Senator Reed melayangkan kritik personal yang pedas kepada Hegseth. Ia menuduh Menhan hanya melaporkan apa yang ingin didengar oleh Presiden Trump, bukan apa yang perlu didengar.

“Masalah dengan pernyataan Anda, Pak Sekretaris, adalah pernyataan tersebut dilebih-lebihkan secara berbahaya. Rezim garis keras Iran tetap berkuasa, masih memiliki stok uranium yang diperkaya, dan program nuklirnya tetap berjalan,” tegas Reed.

Isu Kebijakan dan Gaya Hidup Menhan

Selain strategi perang, Reed menyoroti retorika “tanpa ampun” Hegseth yang dianggap mengabaikan aturan pelibatan militer (rules of engagement). Reed juga mengkritik prioritas pribadi Hegseth di tengah situasi perang, mulai dari perombakan korps pendeta militer, penghapusan kewajiban vaksin flu, hingga keputusan mengundang penyanyi Kid Rock untuk melakukan “joy ride” dengan helikopter Apache di pangkalan militer.

Menanggapi berbagai tuduhan tersebut, Hegseth tetap teguh pada posisinya. Ia menyerang balik para kritikus dari Partai Demokrat dan sebagian Republik dengan sebutan “naysayers” yang ceroboh dan pecundang.

“Musuh terbesar yang kita hadapi saat ini adalah para penentang yang ceroboh dan kata-kata kekalahan dari Demokrat di Kongres serta beberapa anggota Republik,” balas Hegseth.

Hegseth mengklaim bahwa perang tersebut memiliki dukungan luas dari rakyat Amerika, meskipun jajak pendapat berulang kali menunjukkan mayoritas publik AS menentang konflik tersebut karena dampak ekonomi dan risiko perang yang lebih luas.

Menutup perdebatan, Senator Richard Blumenthal memberikan peringatan keras. “Amerika tidak pernah berhasil dalam perang kecuali rakyat Amerika mendukungnya. Jika apa yang Anda lihat sebagai kesuksesan sekarang adalah sebuah kemenangan, saya benci melihat seperti apa kekalahan itu nantinya,” pungkasnya. (the Guardian/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *